Rabu, 22 Februari 2012

BAHAYA KRESEK HITAM
          
          Kantong kresek begitu akrab dengan kita. Saat beli sesuatu di warung, di pasar, di supermarket, beli gorengan di kaki lima, dll, bisa dipastikan menggunakan kantong kresek sebagai wadahnya. Saat Idul Korban, kantong tsb dimanfaatkan untuk wadah daging korban yang akan dibagikan ke masyarakat. Tidak heran jika tempat sampah kita didominasi oleh kantong kresek tsb.
Tumpukan sampah plastik
          Kantong kresek memang praktis dan murah. Namun di balik itu, kantong kresek mengandung bahan kimia  berbahaya yang bisa mengontaminasi makanan di dalamnya.
          Beberapa waktu lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan peringatan resmi tentang bahaya kantong kresek. Berdasarkan hasil penelitiannya, kantong kresek, terutama warna hitam, merupakan produk daur ulang yang mengandung bahan kimia berbahaya.
          Lebih parah lagi, dalam proses daur ulang itu produsen juga tak memperhatikan riwayatnya. Bisa jadi plastik tsb bekas wadah perstisida, limbah rumah sakit, kotoran hewan, kotoran manusia, atau limbah logam berat. BPOM meminta masyarakat tak menggunakan kontong kresek sebagai wadah makanan, terutama makanan siap santap. Selain diragukan kebersihannya, kantong kresek berwarna dekhawatirkan mengandung zat karsinogen yang dalam pemakaian jangka panjang dapat memicu kanker.
          Bahan kimia plastik tak hanya mudah terurai dan migrasi ketika terkena makanan panas. namun juga makanan mengandung asam, cuka, vitamin C, dan berlemak/berminyak. Tak berlebihan jika Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor dan Institut Pertanian Bogor menghimbau agar daging korban tidak dimasukkan dalam katong kresek, terutama yang berwarna hitam.
          Selain kantong kresek, kemasan plastik berbahan polivinil klorida (PVC) dan kemasan makanan styrofoam juga berisiko melepaskan bahan kimia berbahaya. Jadi sebisa mungkin menghindari kemasan makanan yang mengandung PVC sebagai wadah makanan panas, berminyak, berlemak atau mengandung alkohol.

Sumber: VIVAnews, Pipiet

Jumat, 25 November 2011


SELAMATKAN BUMI KITA

       Tidak seperti negara-negara eropa yang mempunyai empat musim, Indonesia hanya punya dua musim, yakni kemarau dan hujan. Batas kedua musim tersebut adalah bulan April dan Oktober. Saat bulan April, hujan mulai jarang, bahkan berhenti.  Memasuki Oktober, hujan mulai datang.
      Keteraturan kedua musim tersebut tampaknya hanya tinggal kenangan. Saat ini, hujan deras di bulan Agustus bukanlah hal yang aneh. Sebaliknya kemarau berkepanjangan hingga  bulan Desember, yang mana  orang Jawa bilang gedhe-gedhene sumber, bukan lagi menjadi hal yang mengherankan.
         Hujan tidak lagi membawa berkah bagi petani, namun kedatangannya justru menjadi momok yang siap mengancam  tanamannya bahkan nyawanya. Betapa tidak, fenomena banjir,  tanah longsor, angin puting beliung, hujan yang disertai butiran-butiran es, telah memusnahkan harapan akan kemakmuran datangnya musim hujan.
          Demikian pula saat kemarau. Suhu panas di musim kemarau sudah di luar kewajaran. Jika kita amati dan  rasakan, semakin tahun panasnya semakin bertambah. Pemanasan global telah benar-benar terjadi. Ini terbukti dari naiknya permukaan air laut tiap tahunnya, sebagai akibat dari mencairnya es di kutub bumi. Apabila ini dibiarkan,  daratanpun akan tenggelam. Tidak ada tempat lagi untuk berlindung, meski di puncak tertinggi bumi sekalipun. Mengerikan.  
      Lantas bagaimana  tanggung jawab kita terhadap anak cucu kita? Bukankah bumi ini merupakan titipan dari anak cucu kita yang harus kita jaga.
         Belum terlambat. Kalaupun sedikit terlambat, itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Sekecil apapun yang kita bisa, sangat berguna bagi kelestarian alam ini.
        Mungkin kita    tak mampu untuk mencegah penggundulan hutan yang merajalela, karena bukan kapasitas kita. Kita juga tidak bisa mencegah pabrik-pabrik raksasa  untuk melubangi ozon dengan gas CO2 nya. Namun tindakan kecil dan remeh seperti mematikan lampu saat tidak diperlukan, menanam pohon, membatasi penggunaan bahan-bahan yang tidak bisa didaur ulang, meminimalkan penggunaan plastik dan stereofoam  yang  tidak mampu terurai dalam waktu singkat, merupakan tindakan yang sangat berguna bagi kelestarian alam sekaligus menjaga bumi tetap lestari.

Illustrasi dari film 2012